itkas
September 26th 1983  (Age 26)
Male
surakarta
arsawi@plasa.com
   

<< September 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, September 06, 2010
Sepatu Rongsokan

sepatuku tak ada yang istimewa
di dalamnya tak ada kisah-kisah menarik
biar begitu kukisahkan dengan pantun saja
agar terlihat lebih asyik


wajah pujaan hati secantik melati tanpa lecet
memandangnya buat mabuk bagai kena pelet
tak mungkin ku seperti Pink Buble yang pintar balet
atau Angga yang doyan main basket,
dan ku posting ini supaya dapat sneaker Robinet
yang terkenal nyaman dan anti lecet

ku bukan Bu Maryna yang hobi joging
atau Phili yang beli dari gaji training
Atau seperti Bu Yenni yang berkeliling dunia
atau seperti  Bu Elisa yang sepatunya melintasi samudra

ku juga bukan Nadia Friza yang aktivis
yang belakang kedua sepatunya bolong-bolong
ku juga bukan Cyntha yang punya Umbro romantis
atau bukan Ndaru yang sepatunya bisa ngomong

ku bukan Muammar yang mempoles sepatu dengan grafiti
atau cerita sepatu jaman SMP-nya si Zikri
atau cerita tentang sepatunya Tia,
sepatu pembelian Lung, kekasihnya tercinta

aku bukanlah Matahari Timoer
yang cerita sepatunya mengharukan
kesan-kesan buluk sepatunya bisa saja gugur
tertutupi jasa sepatu yang tak tergantikan

dan oh, lihatlah betapa segar pohon-pohon pinus
yang menghirup udara September yang dingin,
ohya, sepatuku juga tak seberuntung miliknya Denuzz
yang sempat ketemu dengan Mita The Virgin

tapi mungkin kisahku sedikit mirip punyanya Pak Kholik
karena sepatunya adalah sepatu pemberian atau  hadiah
sedang sepatuku ini sebenarnya mau dibuang sang pemilik
tapi kuminta saja daripada berakhir di tempat sampah





aslinya ini sepatu futsal buat main bola
tapi bisa berubah fungsi
saat sepatu kantor saya kena hujan mendera
sepatu futsal ini bisa mengganti




dan hingga bulan ini hujan masih saja menyapa
itulah alasanku kalau sang atasan bertanya
memang aneh pakai sepatu futsal ke tempat kerja
apalagi tidak sinkron antara sepatu dan celana









***

PS. Wahai pak Arman, ukuran kaki saya 42 lho (kok saya pede banget ya kalau menang, padahal belum tentu...:))


Posted at 11:56 by itkas
.  

Sunday, September 05, 2010
Cukup Tulisanmu Saja

Sudah diputuskan
bahwa ku tak ingin tertarik lagi dengan kecantikan wajahmu...

ku hanya mencintai tulisanmu saja

terutama puisi-puisi indah, di waktu dan tempat yang tepat.

^^

Posted at 23:14 by itkas
.  

Friday, September 03, 2010
Manusia Tanpa Kampung Halaman

Katakan padaku,apa sebenarnya mudik itu? Pulang? Pulang ke kampung halaman? Pulang dan bertemu ayah-bunda tercinta? Pergi ke kampungnya ayah atau bunda? Pulang ke tempat awal-mula kita mulai mengenal lingkungan dunia? Pulang untuk menghirup lagi harumnya udara sawah dan aroma amisnya belut-belut yang dijajakan di pinggir jalan? Apakah itu yang disebut mudik? Tentang kampung halaman, apa lagi itu? Sayangnya hingga dewasa ini ku tak tahu apa itu mudik dan bagaimana asyiknya mudik. Kadang iri juga bila teman-teman menceritakan indahnya mudik tahun kemarin. Mengarungi jalanan Jakarta-Wonogiri memakai sepeda motor. Dia berboncengan dengan istri dan seorang anaknya. Motor di jok belakangnya ditempeli bambu atau kayu dan dibentuk sedemikian rupa hingga bisa menopang barang-barang dan oleh-oleh. Mereka juga mengeluhkan betapa padatnya jalanan, dan anehnya, meski mereka mengeluh, tapi aku malah ingin ikut merasakannya.

Bila kau bertanya padaku,lalu kenapa kau sendiri tidak mudik? Apa kau tidak punya kampung halaman? Akan kujawab, benar, aku manusia yang tidak punya kampung halaman.

Aku dilahirkan di Kudus, selang 3 tahun ayah dipindah-tugaskan ke Jepara, tentu saja semua anggota keluarga ikut. Satu tahun kemudian, ayah dipindahkan lagi ke takalar, Sulawesi Selatan hingga ku berumur 10 tahun. Baru setelah itu ayah ditugaskan lagi ke Pulau Jawa, tepatnya di Blora, sedang anggota keluarga yang lain tinggal di wonogiri, menempati rumah warisan kakek dari ayah, jadi Wonogiri adalah kampung halamannya ayah dan juga ibu.

Andai kau beranggapan kalau Kudus adalah kampung halamanku, maka kujawab, bukan. Aku sama sekali tidak ingat tempat itu, meskipun para bapak dan ibu tetangga di Kudus bercerita tentang betapa menggemaskannya saya sewaktu kecil, sama sekali tidak kuingat tentang mereka dan lingkungan itu.

Bila kau berkata kalau Jepara adalah kampung halamanku, kau salah juga.sama seperti Kudus, aku tidak ingat apa-apa saat di sana.

Bila kau mengatakan kalau Takalar adalah kampung halamanku, kau salah juga. Memang aku besar disana dan aku ingat segala memori saat di sana, teman-teman sepermainan, betapa galaknya Bu Halwiyah Amin, kepala sekolah SD Inpres Paririsi atau tentang goa markas persembunyian dari semak-semak pagar yang kubuat bersama geng sekelas SD dulu. Lantas apakah itu yang disebut sebagai kampung halaman? Apakah ku merasa wajib untuk kembali alias mudik ke sana? Begitu ku mulai menyukai dan beradaptasi dengan Takalar, ayah ditugaskan negara untuk kembali ke Jawa, dan aku sama sekali tidak menganggap kalau Takalar adalah kampung halamanku.

Oh ya, selama di Takalar, saat datang lebaran, ayah-ibu mengajak mudik ke pulau Jawa, selalu dengan kapal laut, entah itu Kambuna atau Rinjani. Dengan begitu apakah kau mengira kalau aku sudah melakukan mudik? Sepertinya tidak. Ayah-ibulah yang sebenarnya mudik. Aku hanya beranggapan kalau aku hanya  berekreasi naik kapal, berdempet-dempetan tidur di kolong kelas ekonomi, saat siangnya bersama anak-anak kecil yang lain mencari kertas bekas kemudian lari ke buritan kapal untuk mengibarkan kertas tadi. Saat sampai di tanah Jawa, mulai berkunjung tempat-tempat nenek-kakek dan saudara yang meskipun sudah diterangkan oleh ayah, tetap saja aku tidak bisa mengenalnya dan mengingatnya karena saking banyaknya.

Beginilah enaknya jadi orang yang tak punya kampung halaman, tak punya fanatisme pada tanah tertentu, karena selama tanah dipijak dan langit dijunjung, maka bisa jadi itulah kampungku. Tak perlu mudik ke suatu tempat yang ku yakini kampung halaman, karena dunia inilah kampungku, baik saat di darat di laut atau diangkasa.

Bila mudik diartikan sebagai pulang menjenguk ayah-ibu, mencium tangan-tangan mereka dan memeluk mereka berdua, maka saya...saya... pasti akan mudik :).

***

PS : Curhat ini untuk memeriahkan ultah kedua Blogor, dengan tema : Mudik ke Blogor

Posted at 23:36 by itkas
Comments (5)  

Next Page