please visit my new blog:
sakti2.wordpress.com
ciiayo
Posted at 05:43 by
itkas
mau komentar?
Berdasarkan dengan apa yang telah kuyakini hingga saat ini, tak ada dosen yang jadi kaya dengan hanya mengandalkan dari gaji mengajarnya. Demikianlah sesuai dengan yang kulihat dulu di kampusku. Ada dosen dari Ngawi, tiap ke kampus naik bis pagi-pagi dari rumah. Ada juga yang pakai angkot, pakai motor, ngojek dan sebagainya. Yang naik mobil hanya tiga orang, yang pertama seorang ibu berinisial Sy, kedua Pak Hm, terakhir Pak Marno (sekarang beliau sudah almarhum). Bu Sy naik kijang dan Pak Hm pakai espass, keduanya pakai kendaraan pribadi masing-masing, sedang Pak Marno pakai kijang plat merah, mobil dinas milik UT (Universitas Terbuka).
Demikianlah, ternyata kondisi ini tidak hanya ada di fakultas saya saja, tetapi juga terjadi di fakultas lain, di MIPA juga keadaan dosen-dosen sama, seperti penuturan teman saya yang masih kuliah di sana. Saya juga sempat main ke rumah dosen-dosen itu, pernah. Kebanyakan rumah mereka kecil dan sederhana, kecuali dosen-dosen yang sering terlibat dengan proyek-proyek penelitian, rumah mereka agak mendingan.
Yang berkesan adalah ketika pergi ke tempatnya Pak Heri untuk mengurusi KRS (Pak Heri adalah PA saya, menggantikan Marno, PA saya yang meninggal). Ketika itu sore-sore ada sebuah kejadian menyenangkan sekaligus mencengangkan. Pak Heri, umur 40 tahunan, sedang memandikan ke-4 anaknya yang masih kecil-kecil. Caranya? Anak-anaknya itu disuruh telanjang dan berdiri di pekarangan dan berjajar. Pak Heri berteriak, "Bersiaplah kalian!" sambil menembakkan water cannon mungil dari ujung selang yang tersambung dengan Sanyo. Sungguh pemandangan yang menakjubkan, indah dan sederhana, memandikan anak sekaligus menyiram tanaman pekarangan.
Dosen-dosen dan proyeknya
Ada dua dosen di tempatku yang tampak mencolok berkaitan dengan proyek-proyeknya. Pertama, Pak Msd, kedua, Bu Sy.
Msd adalah pengajar Sejarah Sosial dan Sejarah Pariwisata (aku cukup heran juga, pariwisata kenapa harus dikaji kesejarahannya? Konyol). Selain mengajar beliau juga seorang bisnisman. Tak kepalang tanggung, ternyata beliau memegang dua kendali bisnis sekaligus. Yang pertama, jual-beli kurma. Kurma langsung di ekspor dari arab sana. Teknisnya saya tidak tahu, tapi yang pasti, saat Romadon tiba, inilah saat-saat baginya untuk panen uang. Saking sibuknya, ia menyuruh orang lain untuk menggantikan ia mengajar. Dosen yang mengganti adalah Pak Dyn. Beliau ini sebenarnya bukan dosen, tapi cuma kenalan Msd di perusahaan tour dan travel (Lho kok bisa?).
Bisnis Msd yang kedua adalah tour dan travel (nah, terjawab sudah pertanyaan tadi). Mahasiswa yang menempuh program sejarah harus siap-siap menyiapkan tangannya untuk merogoh kocek bapak atau ibunya dalam-dalam karena hampir tiap semester menjalani apa yang disebut dengan kuliah lapangan. Kuliah ini sangat butuh yang namanya bis (untuk transport), hotel (kuliah lapangan perlu berhari-hari mempelajari dan mengunjungi tempat-tempat konyol) dan terakhir restoran. Bila ada dosen yang membutuhkan kuliah lapangan dalam aksi menyampaikan materinya, maka ia hanya perlu mengontak jasa tour and travel, dan pastinya mereka tahu harus menghubungi siapa.
Dosen kedua yang tampak aktif terkait proyek-proyeknya adalah Bu Sy dan secara langsung Itkas ikut menjalankan proyek tersebut. Ceritanya begini,
Di samping mengajar, Bu Sy juga seorang pedagang batik. Proyek-proyek penelitian ilmiah yang dijalaninya juga selalu berkaitan dengan batik, batik dan batik. Karya penelitian masterpiecenya adalah Batik Vorstenlanden, disamping juga penelitiannya yang lain yang juga tentang batik.
Suatu ketika, seorang mahasiswanya yang semester tua bernama Itkas, untuk ke-6 kalinya datang menemui Bu Sy untuk mengajukan judul penelitian skripsinya (Bu Sy saat itu menjabat sebagai Kepala Program). Singkat cerita, seperti yang sudah diduga sebelumnya, judul itu kembali ditolak oleh Sang Kepala Program, karena menurutnya judul itu sudah banyak dikaji orang lain.
Bu Sy berkata, "Begini saja, bagaimana kalau kau mengkaji masalah batik?"
Itkas mengangkat alisnya.
Bu Sy kembali bertanya, "Kamu kenal atau punya relasi seorang pedagang batik?"
Itkas melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan dosen sambil mengingat-ingat. "Oh ya, ada 1 orang kenalan yang punya pabrik batik, namanya pak Q Alkatiri."
"Wow, apa ia seorang keturunan Arab?"
Itkas mengangguk, Bu Sy melanjutkan bicaranya, "Kalau begitu buat temamu tentang batik keturunan Arab di Surakarta, bagaimana?
Itkas yang telah jenuh karena judul-judulnya ditolak, maka ia menjawab ajakan Bu Sy itu dengan ucapan, "Siap laksanakan!"
Keesokannya judul itu sudah jadi. PERANAN KETURUNAN ARAB DALAM JARINGAN PERDAGANGAN BATIK DI SURAKARTA ABAD XX.
Secara keseluruhan hasil akhirnya, sebenarnya skripsi ini bisa dikatakan produk gagal. Sama seperti pendapat tiga dari empat dosen penguji bahwa batik keturunan Arab di skripsi ini kenapa hanya dibahas beberapa halaman, seolah-olah hanya tempelan saja. Yang lebih banyak dibahas malah jaringan yang dikuasai pengusaha pribumi Jawa di Laweyan dan para pengusaha keturunan Cina sebagai pedagang perantara dan bahan bakunya dan juga bla...bla...bla... dan bla...bla...bla... Sedangkan dosen penguji yang satunya hanya mengkritik pada ketentuan penulisan saja.
Tapi kenapa kemudian skripsi ini dapat lolos di dewan penguji? Mungkin karena wajah Itkas yang memelas, sehingga para dosen penguji merasa kasihan kalau tidak meluluskannya, atau bisa juga karena isu yang santer terdengar di kalangan mahasiswa kala itu bahwa dosen yang bertindak sebagai penguji skripsi sedapat mungkin harus meluluskan ujian skripsi mahasiswa semester tua. Kenapa? Karena mahasiswa semester tua hanya menjadi beban bagi subsidi anggaran pendidikan di universitas negeri (itu waktu itu, mungkin sekarang subsidinya sudah dihapus), Maka harus secepatnya diluluskan atau bisa juga dengan ancaman akan di-D-O-kan.
Atau bisa saja ada sebab-sebab lain, ada jawaban yang cukup logis. Pada halaman lampiran Itkas mencantumkan daftar nama pengusaha batik keturunan Arab, alamat rumah plus nomor-nomor yang bisa dihubungi serta lengkap pula dengan jepretan motif-motif batik dari pengusaha-pengusaha batik keturunan Arab yang kesemuanya dapat membuat mata seorang pedagang batik berbinar-binar gembira.
Akhirnya karya tulis itkas itu dapat lolos ditambah dengan revisi yang cukup banyak namun semuanya dapat selesai.
Ah, sudah sekian tahun berlalu. Dosen-dosen itu masih tetap hebat dan sederhana, sedangkan Itkas masih jadi manusia biasa yang cuma bisa membuat blognya tetap sederhana.
***
Posted at 16:08 by
itkas
mau komentar?
dengan sengaja kutuliskan namamu di sepanjang jalan aspal hitam agar terinjak-injak ban truk yang besar-besar dan akhirnya terkelupas...
dengan sengaja kulukiskan wajahmu di hamparan awan agar terhembus taring hujan dan tersemprot ludah angin agar tampak kabur dan semakin kabur...
dengan sengaja kucoretkan namamu di permukaan air dan biar air sendiri yang akan menghapusnya...
dengan sengaja kutuliskan namamu di pasir pantai, biar dengan mudah dihapus oleh kibasan poni sang ombak...
dengan sengaja kutuliskan namamu di tubuh bangkai perahu yang teronggok di
sana, biar namamu ikut lapuk dikunyah lambung cuaca...
mereka semua - ban truk, air hujan, angin, ombak dan cuaca - ternyata berhasil menghapus namamu dari kanvas jalan, langit, hujan dan pasir pantai...
ku tengah mencari lagi kanvas mana yang akan kutulis namamu dan dengan mudah terhapus, dengan harapan namamu juga akan ikut terhapus dari ingatan.
tapi yang terjadi malah sebaliknya...
tanpa sengaja kupahat namamu di bongkahan otakku...
tanpa sengaja kuabadikan namamu di prasasti hatiku...
namamu malah tertempel erat lestari di kedua tempat itu.
Lalu, apa aku masih bisa berkata: Bagus itu..?
Baiklah... bagus itu...
setidaknya aku masih laki-laki normal yang mencintai wanita sepertimu...
dan dengan melihatmu saja, duhai makhluk cantik nan sempurna, dengan sepenuhnya sadar, pasti Dia Yang Menciptakanmu lebih suci dan lebih sempurna daripada sekedar mahkluk ciptaan-Nya...
:)
***
Posted at 20:24 by
itkas
mau komentar?