Katakan padaku,apa sebenarnya mudik itu? Pulang? Pulang ke kampung halaman? Pulang dan bertemu ayah-bunda tercinta? Pergi ke kampungnya ayah atau bunda? Pulang ke tempat awal-mula kita mulai mengenal lingkungan dunia? Pulang untuk menghirup lagi harumnya udara sawah dan aroma amisnya belut-belut yang dijajakan di pinggir jalan? Apakah itu yang disebut mudik? Tentang
kampung halaman, apa lagi itu? Sayangnya hingga dewasa ini ku tak tahu apa itu mudik dan bagaimana asyiknya mudik. Kadang iri juga bila teman-teman menceritakan indahnya mudik tahun kemarin. Mengarungi jalanan Jakarta-Wonogiri memakai sepeda motor. Dia berboncengan dengan istri dan seorang anaknya. Motor di jok belakangnya ditempeli bambu atau kayu dan dibentuk sedemikian rupa hingga bisa menopang barang-barang dan oleh-oleh. Mereka juga mengeluhkan betapa padatnya jalanan, dan anehnya, meski mereka mengeluh, tapi aku malah ingin ikut merasakannya.
Bila kau bertanya padaku,lalu kenapa kau sendiri tidak mudik? Apa kau tidak punya kampung halaman? Akan kujawab, benar, aku manusia yang tidak punya kampung halaman.
Aku dilahirkan di Kudus, selang 3 tahun ayah dipindah-tugaskan ke Jepara, tentu saja semua anggota keluarga ikut. Satu tahun kemudian, ayah dipindahkan lagi ke takalar, Sulawesi Selatan hingga ku berumur 10 tahun. Baru setelah itu ayah ditugaskan lagi ke Pulau Jawa, tepatnya di Blora, sedang anggota keluarga yang lain tinggal di wonogiri, menempati rumah warisan kakek dari ayah, jadi Wonogiri adalah kampung halamannya ayah dan juga ibu.
Andai kau beranggapan kalau Kudus adalah kampung halamanku, maka kujawab, bukan. Aku sama sekali tidak ingat tempat itu, meskipun para bapak dan ibu tetangga di Kudus bercerita tentang betapa menggemaskannya saya sewaktu kecil, sama sekali tidak kuingat tentang mereka dan lingkungan itu.
Bila kau berkata kalau Jepara adalah kampung halamanku, kau salah juga.sama seperti Kudus, aku tidak ingat apa-apa saat di sana.
Bila kau mengatakan kalau Takalar adalah kampung halamanku, kau salah juga. Memang aku besar disana dan aku ingat segala memori saat di sana, teman-teman sepermainan, betapa galaknya Bu Halwiyah Amin, kepala sekolah SD Inpres Paririsi atau tentang goa markas persembunyian dari semak-semak pagar yang kubuat bersama geng sekelas SD dulu. Lantas apakah itu yang disebut sebagai kampung halaman? Apakah ku merasa wajib untuk kembali alias mudik ke sana? Begitu ku mulai menyukai dan beradaptasi dengan Takalar, ayah ditugaskan negara untuk kembali ke Jawa, dan aku sama sekali tidak menganggap kalau Takalar adalah kampung halamanku.
Oh ya, selama di Takalar, saat datang lebaran, ayah-ibu mengajak mudik ke pulau Jawa, selalu dengan kapal laut, entah itu Kambuna atau Rinjani. Dengan begitu apakah kau mengira kalau aku sudah melakukan mudik? Sepertinya tidak. Ayah-ibulah yang sebenarnya mudik. Aku hanya beranggapan kalau aku hanya berekreasi naik kapal, berdempet-dempetan tidur di kolong kelas ekonomi, saat siangnya bersama anak-anak kecil yang lain mencari kertas bekas kemudian lari ke buritan kapal untuk mengibarkan kertas tadi. Saat sampai di tanah Jawa, mulai berkunjung tempat-tempat nenek-kakek dan saudara yang meskipun sudah diterangkan oleh ayah, tetap saja aku tidak bisa mengenalnya dan mengingatnya karena saking banyaknya.
Beginilah enaknya jadi orang yang tak punya kampung halaman, tak punya fanatisme pada tanah tertentu, karena selama tanah dipijak dan langit dijunjung, maka bisa jadi itulah kampungku. Tak perlu mudik ke suatu tempat yang ku yakini kampung halaman, karena dunia inilah kampungku, baik saat di darat di laut atau diangkasa.
Bila mudik diartikan sebagai pulang menjenguk ayah-ibu, mencium tangan-tangan mereka dan memeluk mereka berdua, maka saya...saya... pasti akan mudik :).
***
PS : Curhat ini untuk memeriahkan ultah kedua Blogor, dengan tema :
Mudik ke Blogor