|
|
|
|
|
INGAT LAUTAN INGAT LANGITAN Saat yang paling kunantikan adalah saat dimana langit telah berwarna jingga dari ekor-ekor cahaya mentari yang ingin kembali tidur. Langit jingga itu lalu menggandeng awan kelabu untuk berdansa bersama dan menciptakan nantinya tarian hujan. Bila saat itu terjadi, aku akan pergi ke laut, menciptakan istana air dan membuat ruang-ruang dari air. Setelah itu aku berenang terbang dari ruang satu ke ruang lainnya. Namun semuanya masih sepi, hingga nanti datang anak-anak rintik hujan yang bernyanyi berkecipakan tercurah terjun dari langit menuju atap-atap istana air. Saat itulah terbentuk keramaian yang gegap-gempita : suara kepak sayapku saat terbang di dalam istana airku; suara anak-anak hujan bersorak; dan suara istana airku yang tiba-tiba menggigil karena tadi sepanjang siang tubuhnya panas terpanggang mentari. Dan tiba-tiba anak-anak rintik hujan mengerubunginya, menciptakan kabut. Kabut hangat ini membumbung ke langit lantas bersetubuh dengan angin, dan melahirkan ombak-ombak yang kadang dingin, kadang panas. Tapi di balik keramaian ini, aku kesepian sebagai pemilik, sebagai raja di istana airku. Aku butuh permaisuri, agar bisa menikmati ini bersamanya. Akupun telah mengimajinasikannya lalu kembali terbang dari ruang-ke-ruang bersamanya. Aku pakai jubah kebesaranku, yang terbuat dari air tentu saja. Jubah itu sangat hangat membelai kulit. Malam perlahan menjelang. Bulu-bulu ekor cahaya senja si mentari telah terseret bersembunyi di markasnya di barat. Langit menjadi hitam gelap. Awan kelabu dan anak-anak hujannya telah lelah bermain. Jubah kebesaranku yang tadinya hangat, berubah menjadi jarum-jarum tajam yang dingin menusuki kulit. Di bibir pantai aku limbung, di garis pantai aku tak mampu membedakan mana kenyataan, mana imajinasi, mana pernyataan, mana impian. Mana permaisuriku tadi? Saatnya pulang ke kenyataan. Permaisuri itu tidak ada, belum ada. Istana itupun belum ada di daratan. Selama ini aku lupa daratan dan justru malah ingat lautan dan ingat langitan, padahal aku tak punya insang atau sayap. Saatnya aku harus ingat daratan lagi, menciptakan anggaran untuk membangun istana, meminang seorang bidadari dan menciptakan anggaran-anggaran lain untuk menyejahterakan permaisuriku dan juga menyejahterakan dunia.
|