itkas
September 26th 1983  (Age 26)
Male
wonogiri
abdjalil@iu.zzn.com
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed










 
Tuesday, November 03, 2009
Konspirasi Indah
cicak-cicak di dinding,
diam-diam menyadap,
datang banyak buaya,
hap !
cicak ditangkap...


Daripada  nonton film-film konspirasi seperti Da Vinci Code, Angels and Demons, Infernal Affair seri 1 sampai 4 (versi Hollywood-nya= The Departed), trus serial Prison Break atau Bourne Identity-Supremacy-Ultimatum,
lebih baik menonton bangsa kita sendiri saja.

Setelah menonton/mendengar Uji Materi rekaman penyadapan dari KPK di show-nya MK sekaligus memperdengarkan isi rekaman plus konferensi pers dari pihak yang hadir,
maka tak ada kata lain selain saya bangga hidup di negeri tercinta Indonesia.

Karena apa?

Karena kita ternyata memiliki cerita konspirasi sendiri, dan itu bukan fiksi, dan kisah ini belum selesai.

Kalau saya bayangkan menjadi warga negara lain, tetangga dari Indonesia, Malaysia misalnya, maka saya akan merasa sangat iri dengan para masyarakat Indonesia yang sudah disuguhi tontonan konspirasi mengasyikkan, saya akan sangat iri dan ingin sekali menjadi warga negara Indonesia, saya ingin sekali melihat pertarungan Cicak lawan Buaya yang sama sekali tidak ada di negara saya atau bahkan di negara lain.

Saya tidak sabar melihat ending dari cerita ini.

Cerita ini suatu saat akan menjadi film (barangkali, mudah-mudahan ada sineas yang mau mengabadikan kisah ini, atau doakan semoga saya bisa memfilmkannya), atau minimal suatu saat nanti akan menjadi kisah manis yang akan menghiasi buku-buku pelajaran sejarah yang akan dinikmati oleh generasi kita selanjutnya.
Posted at 05:58 pm by itkas
Comments (2)  

 
Friday, October 23, 2009
INGAT LAUTAN INGAT LANGITAN

Saat yang paling kunantikan adalah saat dimana langit telah berwarna jingga dari ekor-ekor cahaya mentari yang ingin kembali tidur. 

Langit jingga itu lalu menggandeng awan kelabu untuk berdansa bersama dan menciptakan nantinya tarian hujan.

Bila saat itu terjadi, aku akan pergi ke laut, menciptakan istana air dan membuat ruang-ruang dari air.

Setelah itu aku berenang terbang dari ruang satu ke ruang lainnya.

Namun semuanya masih sepi, hingga nanti datang anak-anak rintik hujan yang bernyanyi berkecipakan tercurah terjun dari langit menuju atap-atap istana air.

Saat itulah terbentuk keramaian yang gegap-gempita : suara kepak sayapku saat terbang di dalam istana airku; suara anak-anak hujan bersorak; dan suara istana airku yang tiba-tiba menggigil karena tadi sepanjang siang tubuhnya panas terpanggang mentari.

Dan tiba-tiba anak-anak rintik hujan mengerubunginya, menciptakan kabut. Kabut hangat ini membumbung ke langit lantas bersetubuh dengan angin, dan melahirkan ombak-ombak yang kadang dingin, kadang panas.

Tapi di balik keramaian ini, aku kesepian sebagai pemilik, sebagai raja di istana airku.

Aku butuh permaisuri, agar bisa menikmati ini bersamanya.

Akupun telah mengimajinasikannya lalu kembali terbang dari ruang-ke-ruang bersamanya.

Aku pakai jubah kebesaranku, yang terbuat dari air tentu saja. Jubah itu sangat hangat membelai kulit.

Malam perlahan menjelang. Bulu-bulu ekor cahaya senja si mentari telah terseret bersembunyi di markasnya di barat.

Langit menjadi hitam gelap. Awan kelabu dan anak-anak hujannya telah lelah bermain.

Jubah kebesaranku yang tadinya hangat, berubah menjadi jarum-jarum tajam yang dingin menusuki kulit.

Di bibir pantai aku limbung, di garis pantai aku tak mampu membedakan mana kenyataan, mana imajinasi, mana pernyataan, mana impian.

Mana permaisuriku tadi?

Saatnya pulang ke kenyataan. Permaisuri itu tidak ada, belum ada. Istana itupun belum ada di daratan.

Selama ini aku lupa daratan dan justru malah ingat lautan dan ingat langitan, padahal aku tak punya insang atau sayap.

Saatnya aku harus ingat daratan lagi, menciptakan anggaran untuk membangun istana, meminang seorang bidadari dan menciptakan anggaran-anggaran lain untuk menyejahterakan permaisuriku dan juga menyejahterakan dunia.

 

Posted at 10:39 am by itkas
.  

 
Monday, October 12, 2009
PROPERTI
Bila ditanya tentang cita-cita, saya termasuk orang yang paling bingung bagaimana harus menjawabnya. Sejak kecil hingga sekarang, kebingungan itu masih ada. Ketika kecil, saya sering heran sekaligus iri dengan teman-teman yang bisa begitu lancar menjawab dengan lantang: PILOT! DOKTER! INSINYUR! PRESIDEN! ASTRONOT! atau PELAUT! Kenapa mereka bisa menjawab dengan cepat seperti itu ya? Apakah mereka sudah tahu seluk-beluk pekerjaan yang mereka sebutkan sebagai cita-cita yang mereka ucapkan dengan lantang itu? Apakah mereka sudah tahu tentang tanggung-jawabnya? Atau apakah saya harus berhenti memikirkan mereka dan cita-citanya dan malah harus bercermin ke diri sendiri, kenapa kamu tidak punya cita-cita?

Sudah, sebenarnya sudah bercermin, setidaknya ketika masih kelas 4 SD bahkan, saya mengadakan semacam wawancara kepada teman tentang cita-cita mereka. Contohnya di sela-sela kesibukan kita bermain sebagai kanak-kanak, saya menanyakan kepada Wawan, teman kelas saya yang cita-citanya adalah pelaut, "Bagaimana kalau kamu sedang di laut, membawa awak dan penumpang, padahal sedang ada badai?"
Dia berpikir dan menjawab, "Ya tidak apa-apa, harus dihadapi."
Ia lantas menaiki mainan menara pipa besi setinggi 1,5 meter. sampai di puncaknya ia duduk di pipa besi yang bersilangan.
Saya bertanya agak berteriak, "bagaimana kalau kapalmu karam dan hancur, kamu dan yang lain terdampar di pulau seram?"
Dia tidak menjawab, mungkin karena sudah tenggelam dalam imajinasinya, dia duduk di atas menara itu, berkhayal menjadi nahkoda, pipa palang besi itu menjadi setir kemudi kapal, sedangkan dari mulutnya keluar suara-suara badai, suara-suara ombak yang menghantam kapalnya. Saya tidak jadi menanyakan hal tadi, biarkanlah dia bermain.

Pernah sempat terbesit dalam pikiran untuk menjadi pengusaha perhotelan yang punya banyak hotel di seluruh kota, pengusaha rumah dan tanah. Ini gara-gara ada permainan MONOPOLI. Terbukti kalau memilih kolom tempat yang strategis dan agak mahal, sebagai awal cukup beli tanahnya dulu, maka cukup bisa sebagai penghasilan pasif (passive income) dan cukup bisa juga menutupi biaya hipotek. Tetapi seiring waktu, keinginan yang hampir menjadi cita-cita ini meluntur. Tidak ada waktu dan modal untuk mewujudkan keinginan ini menjadi kenyataan. Waktu berjalan, tahapan sekolah demi sekolah sudah dijalani. Pemikiranpun berubah, lebih baik menjadi orang yang punya keterampilan, menjadi karyawan dan nanti bekerja pada orang lain yang membutuhkan keterampilanku dan sebagai balasan saya akan minta gaji. Begitulah.

Sang Waktu berjalan, dan perjalanannya dengan sembunyi-sembunyi, jadi saya tidak tahu, tidak sadar ternyata dia sudah berjalan sejauh itu.

Ketika sedang menjelajahi internet ada artikel tentang bisnis properti. Ada seorang pengusaha muda yang mengelu-elukan betapa bisnis properti membuatnya menjadi orang sukses sepeerti sekarang, padahal  ia masih sangat muda. "Tanah dan apa saja yang dibangun diatasnya adalah investasi yang takkan pernah rugi karena harganya pasti selalu naik dan naik dan naik," begitu katanya dan cita-cita saya dulu kembali bersinar dalam pikiran karena sesuai dengan pendapat saya. Setelah membaca artikel sampai habis ternyata ujung-ujungnya akhir halaman terdapat tulisan PESANLAH BUKU INI SEGERA, BUKU YANG BERISI SELUK-BELUK PENGUASAAN PROPERTI, HARGANYA BLA...BLA...BLA... melihat harga tersebut, kembali cahaya pikiran tentang cita-cita itu meredup. Lebih baik jadi karyawan, seperti biasa.

FB alias buku muka alias facebook merebak. Pekerjaan saya yang dulu adalah pembantu staf di sebuah sanggar kegiatan belajar yang ada fasilitas internet dari pemerintah, jadi kesempatan untuk online sangat banyak. Kembali ke fb, ternyata di dalamnya ada game MafiaWars. Gara-gara ini cita-cita menjadi pengusaha properti kembali merebak. Pasalnya untuk menjadi seorang anggota mafia salah-satu syaratnya harus punya properti. Itu dia. Sebagai modal dan juga untuk menaikkan derajat ke-mafia-an di mata mafia-mafia yang lain, seorang mafia harus menjalani job-job yang sudah ditentukan. Properti wajib adalah membeli tanah kosong untuk didirikan markas, semakin banyak anggota yang ikut maka semakin diperluas markasnya. Perlu juga untuk membeli properti sebagai passive income dengan beberapa pilihan model tanah, lokasi dan model bangunan. Agar dapat menjadi mafia yang besar maka perlu kombinasi antara  tingginya derajat kemafiaan dan banyaknya properti. Supaya semua-muanya aman, job-job lancar, properti tidak diganggu, maka perlu membeli inventaris berupa senjata-senjata, bodyguard dan alat-alat transportasi. Sampai disini sudah terbayang nikmatnya kalau memiliki properti. Bila dibandingkan dengan kenyataan, sangat jauh. jadi biarlah penguasaaan properti dalam game hanya sebagai cita-cita manis tanpa perlu diwujudkan di dunia nyata.

Keasyikan tersebut ternyata tak bertahan lama. karena kesalahan prediksi. Ada sebuah lembaga psikotes yang 'tampaknya' besar, saya beralih ke sana dan meninggalkan pekerjaan lama yang bisa dengan leluasa online, dengan harapan di LPT CENDOL ini, gajinya besar, untuk membeli sebuah 'buku catatan' untuk bisa berada 'dalam garis' pada sebuah 'titik panas' (maksudnya: buat beli notebook supaya bisa online di area hotspot). Dugaan itu salah besar, malah seperti kerja rodi plus fee kecil. Cita-cita tentang properti kembali terkubur dalam-dalam dalam lubuk sanubari yang terdalam, dalam pikiran yang kelam, kadang-kadang kelam, kadang-kadang hanya temaram, tak terwujud baik di dunia nyata maupun dunia game.

Hari Ahad kemarin diadakan seminar Dahsyatnya Bisnis Properti, tentu aja saya ikut, karena sudah dua pekan yang lalu seorang teman sudah menawari tiket gratisnya. Impian cita-cita tentang pengusaha properti kembali bersinar cerah. Seminarnya cukup bagus, mengupas bisnis sampai detail, sampai pada tahapan menjadi developer. Diselenggarakan oleh Properti Plus. Bila bicara langkah-langkahnya, sangat mengasyikkan. Secara simpel langkahnya seperti ini, survei tanah strategis yang bisa dibeli kredit sekitar 3 tahunan (maklum, secara cash tidak mungkin), dp beres, tinggal cari pembeli, uang masuk, bikin main-gate dulu, baru unit-unit utamanya, kemudian unit-unit laku, dan kita menikmati passive income itu.

Masalah dp(down payment alias uang muka) bentuknya adalah patungan dari peserta yang nantinya ikut workshopnya. Itulah mengapa harus kredit, kalau bisa selama-lamanya tiga tahun. Nah, yang menjadi masalah, untuk ikut workshop perlu biaya sekitar 2 jutaan. Bagi mereka-mereka yang sangat sering bergaul dengan uang, arus uang lancar baik keluar atau masuk, hal ini tidaklah masalah, hanya perlu kesabaran saja. Sama halnya ketika bermain properti di Mafiawars, sama, perlu kesabaran juga. kalau masalah sabar, sayapun punya, Tuhanpun menyuruh hamba-hamba-Nya untuk bersabar, tapi yang menjadi masalah adalah, uang 2 jutaannya itu mana?
Alhasil, lembar pendaftaran peserta workshop yang diberikan panitia kepada saya, tidak jadi saya isi, saya bawa pulang, dan biarkan mimpi-mimpi, cita-cita itu kembali terkubur lagi, diiringi alunan tik... tik... tik... air mataku... biar terjatuh.... dalaam haaaatiii..... .


Posted at 11:08 am by itkas
Comment (1)  

Next Page