itkas
September 26th 1983  (Age 26)
Male
wonogiri
abdjalil@iu.zzn.com
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed










 
Sunday, September 27, 2009
Cuma Membalas Senyuman
seharian ini, yang kulihat adalah,  Pintu Lemariku yang tersenyum padaku dan aku juga membalas senyumannya,

Luka Bekas Gigitan Anak Kucing kemarin, juga tersenyum padaku, dan aku membalasnya,

Karpet juga tersenyum padaku, Pagar tersenyum, Jalan Aspal Hitam tersenyum, Anak-anak Tangga tersenyum dan Kolam yang juga ikut tersenyum padaku.

tidak lupa lagi, Langit pun ikut tersenyum padaku,

Jadi, sepanjang hari ini senyumku tidak sendiri,

senyumku menemani dan membalas senyum-senyum mereka,
apa salahnya?

Jadi jangan kalian anggap aku gila karena senyam-senyum sendiri.

Aku tidak gila.


begini saja,

Kumohon, kepada Pintu Lemari,
kepada Luka Bekas Gigitan Anak Kucing,
kepada Karpet,
Pagar, Jalan Aspal Hitam, Anak-anak Tangga, Kolam dan Langit,

kumohon... .
berhentilah tersenyum padaku,
supaya aku tidak perlu membalas senyum kalian,

supaya aku tidak dianggap gila.

supaya aku tidak dianggap gila.

***

nb. mana ada Orang Gila yang mengaku gila (apakah ini tandanya aku sudah gila? jreeeeenggg.....)


Posted at 04:42 pm by itkas
Comment (1)  

 
Thursday, August 13, 2009
Taufik
Namanya adalah Taufik. 11 agustus 2009, seorang teman-Taufik-yang istimewa- telah meninggalkan dunia ini dengan senyumannya.

dia adalah manusia yang spesial, lebih istimewa dari Harun dalam Laskar Pelangi,

aku masih teringat senyumannya saat memandangi kambing-kambingnya, memandangi anak-anak ketika main futsal di tanah lapang, atau saat ayahnya mengejar kambing, atau pandangan menerawangnya saat kuceritakan curhatku padanya, kau tahu teman, dia-lah satu-satunya manusia yang kuajak curhat, seperti yang kau tahu, aku pemalu untuk menceritakan masalahku hingga akhirnya kuajak dia untuk mendengarkan ceritaku. Dan dia cuma tersenyum, sesekali tertawa lalu mendadak diam.

Pernah suatu kali saat dia masuk ke kamarku, ku goncangkan pundaknya sambil kuteriakkan, "APA KAU SEDANG AKTING? PURA-PURA TIDAK NORMAL? SUDAHLAH, DI KAMAR INI HANYA ADA KITA BERDUA, KAU BISA MENINGGALKAN AKSI AKTINGMU ITU !" tapi dia masih tetap seperti biasanya. Lalu aku tertawa menertawakan tindakan konyolku, dan dia juga ikut tertawa tanpa tahu menertawakan apa.

Senin sore, 10 Agustus 2009, dia berdiri di atas rel kereta. Waktu itu ada kereta akan lewat, sedang dia berdiri tepat di tengah rel sambil mengacungkan tangannya seperti hendak menyetop kereta. Dasar bodoh, apa yang dia lakukan? Apa dia meniru adegan Hancock saat akan menyetop kereta? Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Lantas keretapun menabraknya, tubuhnya putus menjadi dua bagian, pinggang sampai kaki masih tertinggal di tempatnya berdiri, sedangkan pinggang sampai kepala terlempar hingga 15 meter. Uniknya, tubuhnya terpotong sedemikian rapi, tanpa ada jeroannya yang tercecer, darah yang menetes pun juga sangat sedikit. Dokter forensik kampus juga terheran-heran dengan kondisinya dan dengan mudahnya ia menjahit dua bagian tubuh itu lalu membungkusnya dengan plastik besar, lalu diserahkan ke keluarganya untuk dimandikan dan disholatkan.

Duhai teman, Sang Pencipta pasti sudah menyiapkan rencana terbaiknya. Mengapa dia harus diciptakan sedemikian indah dan mengapa dia harus meninggalkan dunia juga dengan indah.

  
                                         


Posted at 08:13 pm by itkas
.  

 
Monday, August 10, 2009
DILARANG MEMBACA SAMPAHKU !
dengan mengendarai mesin yang rusak, aku berkelana menyusuri ruang-ruang tubuhku. Ruang-ruang itu kebanyakan sama rusaknya. Apalagi yang terparah adalah ruang otakku. Mimpi-mimpi yang terproduksi dari dalamnya pun ikut rusak. Harusnya kucari seseorang pendamping hidup yang juga rusak otaknya, agar kami berdua bisa seiya-sekata, seirama-seperbuatan dan senasib-sepenanggungan. Atau haruskah aku mencari pendamping hidup seorang psikiater untuk memperbaikiku dan menerapiku? Ah, tidak mungkin,  bagaimana kalau ia juga sedang depresi? Aku-suaminya hanya bisa berikan pendapat sekenanya sambil menebak apa yang ada dalam pikiran seorang psikiater.

sosok 'tuhan' pun lantas muncul terutama pada malam hari untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Dan mungkin Dia menjawab kira-kira seperti ini,
"Ah, dasar hamba yang tak tahu malu, kau datang pada-Ku hanya kalau sedang kesulitan saja, dimana otakmu kau curahkan pada-Ku saat kau sedang gembira. tidakkah kau sadar kegembiraan itu Ku berikan, Ku hadiahkan padamu?"

Sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada uang untuk mahar, tidak ada pekerjaan untuk menghasilkan atau sekedar mencukupi kebutuhan hidup.
Yang ada adalah persahabatanku dengan kemiskinan, kebuntuan dan sampah-sampah tulisan yang muncul menyesak-memenuhi otak-kosongku. Dan kalian, apa yang kalian kerjakan di sini? Sudah kubilang di atas tadi, lihat judulnya = Dilarang Membaca Sampahku !

Posted at 06:45 am by itkas
.  

Previous Page Next Page