|
Sudah, sebenarnya sudah bercermin, setidaknya ketika masih kelas 4 SD bahkan, saya mengadakan semacam wawancara kepada teman tentang cita-cita mereka. Contohnya di sela-sela kesibukan kita bermain sebagai kanak-kanak, saya menanyakan kepada Wawan, teman kelas saya yang cita-citanya adalah pelaut, "Bagaimana kalau kamu sedang di laut, membawa awak dan penumpang, padahal sedang ada badai?" Dia berpikir dan menjawab, "Ya tidak apa-apa, harus dihadapi." Ia lantas menaiki mainan menara pipa besi setinggi 1,5 meter. sampai di puncaknya ia duduk di pipa besi yang bersilangan. Saya bertanya agak berteriak, "bagaimana kalau kapalmu karam dan hancur, kamu dan yang lain terdampar di pulau seram?" Dia tidak menjawab, mungkin karena sudah tenggelam dalam imajinasinya, dia duduk di atas menara itu, berkhayal menjadi nahkoda, pipa palang besi itu menjadi setir kemudi kapal, sedangkan dari mulutnya keluar suara-suara badai, suara-suara ombak yang menghantam kapalnya. Saya tidak jadi menanyakan hal tadi, biarkanlah dia bermain. Pernah sempat terbesit dalam pikiran untuk menjadi pengusaha perhotelan yang punya banyak hotel di seluruh kota, pengusaha rumah dan tanah. Ini gara-gara ada permainan MONOPOLI. Terbukti kalau memilih kolom tempat yang strategis dan agak mahal, sebagai awal cukup beli tanahnya dulu, maka cukup bisa sebagai penghasilan pasif (passive income) dan cukup bisa juga menutupi biaya hipotek. Tetapi seiring waktu, keinginan yang hampir menjadi cita-cita ini meluntur. Tidak ada waktu dan modal untuk mewujudkan keinginan ini menjadi kenyataan. Waktu berjalan, tahapan sekolah demi sekolah sudah dijalani. Pemikiranpun berubah, lebih baik menjadi orang yang punya keterampilan, menjadi karyawan dan nanti bekerja pada orang lain yang membutuhkan keterampilanku dan sebagai balasan saya akan minta gaji. Begitulah. Sang Waktu berjalan, dan perjalanannya dengan sembunyi-sembunyi, jadi saya tidak tahu, tidak sadar ternyata dia sudah berjalan sejauh itu. Ketika sedang menjelajahi internet ada artikel tentang bisnis properti. Ada seorang pengusaha muda yang mengelu-elukan betapa bisnis properti membuatnya menjadi orang sukses sepeerti sekarang, padahal ia masih sangat muda. "Tanah dan apa saja yang dibangun diatasnya adalah investasi yang takkan pernah rugi karena harganya pasti selalu naik dan naik dan naik," begitu katanya dan cita-cita saya dulu kembali bersinar dalam pikiran karena sesuai dengan pendapat saya. Setelah membaca artikel sampai habis ternyata ujung-ujungnya akhir halaman terdapat tulisan PESANLAH BUKU INI SEGERA, BUKU YANG BERISI SELUK-BELUK PENGUASAAN PROPERTI, HARGANYA BLA...BLA...BLA... melihat harga tersebut, kembali cahaya pikiran tentang cita-cita itu meredup. Lebih baik jadi karyawan, seperti biasa. FB alias buku muka alias facebook merebak. Pekerjaan saya yang dulu adalah pembantu staf di sebuah sanggar kegiatan belajar yang ada fasilitas internet dari pemerintah, jadi kesempatan untuk online sangat banyak. Kembali ke fb, ternyata di dalamnya ada game MafiaWars. Gara-gara ini cita-cita menjadi pengusaha properti kembali merebak. Pasalnya untuk menjadi seorang anggota mafia salah-satu syaratnya harus punya properti. Itu dia. Sebagai modal dan juga untuk menaikkan derajat ke-mafia-an di mata mafia-mafia yang lain, seorang mafia harus menjalani job-job yang sudah ditentukan. Properti wajib adalah membeli tanah kosong untuk didirikan markas, semakin banyak anggota yang ikut maka semakin diperluas markasnya. Perlu juga untuk membeli properti sebagai passive income dengan beberapa pilihan model tanah, lokasi dan model bangunan. Agar dapat menjadi mafia yang besar maka perlu kombinasi antara tingginya derajat kemafiaan dan banyaknya properti. Supaya semua-muanya aman, job-job lancar, properti tidak diganggu, maka perlu membeli inventaris berupa senjata-senjata, bodyguard dan alat-alat transportasi. Sampai disini sudah terbayang nikmatnya kalau memiliki properti. Bila dibandingkan dengan kenyataan, sangat jauh. jadi biarlah penguasaaan properti dalam game hanya sebagai cita-cita manis tanpa perlu diwujudkan di dunia nyata. Keasyikan tersebut ternyata tak bertahan lama. karena kesalahan prediksi. Ada sebuah lembaga psikotes yang 'tampaknya' besar, saya beralih ke sana dan meninggalkan pekerjaan lama yang bisa dengan leluasa online, dengan harapan di LPT CENDOL ini, gajinya besar, untuk membeli sebuah 'buku catatan' untuk bisa berada 'dalam garis' pada sebuah 'titik panas' (maksudnya: buat beli notebook supaya bisa online di area hotspot). Dugaan itu salah besar, malah seperti kerja rodi plus fee kecil. Cita-cita tentang properti kembali terkubur dalam-dalam dalam lubuk sanubari yang terdalam, dalam pikiran yang kelam, kadang-kadang kelam, kadang-kadang hanya temaram, tak terwujud baik di dunia nyata maupun dunia game. Hari Ahad kemarin diadakan seminar Dahsyatnya Bisnis Properti, tentu aja saya ikut, karena sudah dua pekan yang lalu seorang teman sudah menawari tiket gratisnya. Impian cita-cita tentang pengusaha properti kembali bersinar cerah. Seminarnya cukup bagus, mengupas bisnis sampai detail, sampai pada tahapan menjadi developer. Diselenggarakan oleh Properti Plus. Bila bicara langkah-langkahnya, sangat mengasyikkan. Secara simpel langkahnya seperti ini, survei tanah strategis yang bisa dibeli kredit sekitar 3 tahunan (maklum, secara cash tidak mungkin), dp beres, tinggal cari pembeli, uang masuk, bikin main-gate dulu, baru unit-unit utamanya, kemudian unit-unit laku, dan kita menikmati passive income itu. Alhasil, lembar pendaftaran peserta workshop yang diberikan panitia kepada saya, tidak jadi saya isi, saya bawa pulang, dan biarkan mimpi-mimpi, cita-cita itu kembali terkubur lagi, diiringi alunan tik... tik... tik... air mataku... biar terjatuh.... dalaam haaaatiii..... . |
| Tha October 15, 2009 03:29 PM PDT dulu waktu masih kecil gw inget waktu ditanyain cita-cita gw apa, dengan polosnya gw jawab : penjahit *gubraks* | ||
| Leave a Comment: |